zonamerahnews.com – Ibu Kota Jakarta kini tengah merasakan sentuhan teknologi canggih dalam upaya mengendalikan iklim. Operasi modifikasi cuaca (OMC) yang digagas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah berlangsung sejak 18 September dan dijadwalkan akan berlanjut hingga 22 September mendatang. Langkah ini diambil untuk mengatasi berbagai tantangan cuaca di wilayah Jabodetabek.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menjelaskan bahwa program intervensi cuaca ini merupakan respons atas perkiraan potensi awan yang teridentifikasi oleh BMKG. Sejak dimulai, upaya pembentukan hujan buatan ini telah menunjukkan hasil signifikan. Berbagai kawasan di Jabodetabek dilaporkan telah diguyur hujan dengan intensitas yang bervariasi.

"Operasi ini terbukti efektif dalam memicu presipitasi. Dari prediksi awal hujan ringan hingga sedang, OMC berhasil menggenjot intensitasnya menjadi sedang hingga lebat, sekaligus memperluas cakupan area yang menerima guyuran air," ungkap Marulitua. Keberhasilan ini terlihat jelas pada Jumat lalu, saat Jakarta dan sekitarnya dibasahi rintik hujan yang cukup deras.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menambahkan, program rekayasa cuaca ini memang sengaja diaktifkan selama tiga hari, dari 18 hingga 20 September, khususnya untuk wilayah DKI Jakarta. Ada alasan ilmiah di balik keputusan ini. "Pada saat yang sama, ada fenomena gelombang atmosfer Kelvin yang sedang melintasi wilayah kita, termasuk Jakarta dan Jawa Barat," jelas Guswanto.
Untuk mendukung kelancaran operasi, dua posko utama didirikan. Untuk wilayah Jakarta, pusat kendali berada di Pondok Cabe. Sementara itu, untuk wilayah Jawa Barat, operasional dipusatkan di Pangkalan Udara Husein Sastranegara. Dengan koordinasi yang matang, diharapkan upaya modifikasi cuaca ini dapat terus memberikan dampak positif bagi kondisi iklim di kedua wilayah tersebut.

