zonamerahnews – Jakarta – Upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatra terus menunjukkan kemajuan signifikan. Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, di bawah kepemimpinan Muhammad Tito Karnavian, gencar menggenjot pembangunan fasilitas vital berupa sumur bor dan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di wilayah terdampak seperti Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Langkah proaktif ini diambil untuk mencegah potensi krisis kesehatan dan mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat penyintas bencana.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai adalah fondasi utama untuk mengembalikan kondisi normal dan menopang kehidupan pascabencana. "Pembangunan sumur bor dan MCK darurat akan terus dikebut guna mencegah krisis kesehatan yang lebih parah, sekaligus mempercepat pemulihan kehidupan penyintas bencana Sumatra," ujarnya.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan upaya ini. Tito Karnavian secara khusus mengapresiasi sinergi yang terjalin antara PLN, Danantara, hingga Kementerian ESDM dalam pembangunan sumur bor dan sanitasi MCK di berbagai lokasi titik bencana Sumatra. Apresiasi ini disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, pada Jumat (27/2).
Berdasarkan data terbaru Satgas PRR per 26 Februari, progres pembangunan fasilitas vital ini menunjukkan angka yang menggembirakan. Untuk fasilitas MCK, dari target total 257 unit di seluruh wilayah bencana Sumatra, sebanyak 208 unit atau sekitar 80 persen telah berhasil dirampungkan. Rinciannya, di Aceh 54 dari 72 MCK telah selesai; di Sumatra Utara, 128 dari 139 MCK sudah terbangun; dan di Sumatra Barat, 21 dari 46 MCK telah dituntaskan.
Sementara itu, pembangunan sumur bor masih terus dikebut untuk mencapai target yang ditetapkan. Dari target 836 unit sumur bor di daerah bencana Sumatra, sebanyak 474 unit atau sekitar 56 persen telah berhasil dibangun. Di Aceh, 369 dari 578 sumur bor telah rampung. Sumatra Utara mencatat 84 dari 152 sumur bor selesai, dan di Sumatra Barat, 21 dari 107 sumur bor telah diselesaikan.
Meskipun progres MCK sudah mencapai 80 persen, Tito menyoroti bahwa pembangunan sumur bor masih membutuhkan perhatian lebih. "Untuk MCK sudah 80 persen, namun sumur bornya masih perlu banyak, baru 56 persen atau 474 unit yang selesai dari target. Ini krusial karena masalah air minum dan jaringan yang putus akibat bencana masih menjadi tantangan utama," tegasnya, menggarisbawahi urgensi penyelesaian fasilitas air bersih.
Rapat koordinasi penting ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dan turut dihadiri oleh sejumlah menteri dan pejabat tinggi lainnya, baik secara langsung maupun virtual. Di antaranya adalah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago; Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono; Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar; Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy; dan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Sarah Sadiqa. Rapat juga diikuti secara virtual oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto; Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid; Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan; Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto; serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria. Komitmen bersama ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan dan memastikan akses dasar bagi seluruh masyarakat terdampak bencana di Sumatra.

