zonamerahnews.com – Palangka Raya Kalimantan Tengah kini tengah menghadapi krisis lingkungan yang mencekam. Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan karhutla telah menyelimuti kota ini selama berminggu-minggu melumpuhkan aktivitas dan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan masyarakat. Sejak Jumat 9 Oktober kondisi udara di ibu kota provinsi ini terus memburuk menciptakan pemandangan langit yang menguning dan memicu kepanikan warga.
Suteja seorang penduduk Kelurahan Sei Gohong Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya menggambarkan situasi yang terjadi. Menurutnya setiap pagi dan siang hari kabut asap begitu tebal hingga mengubah warna langit menjadi kuning pekat. "Udara sangat kotor dan menyesakkan" ujarnya kepada zonamerahnews.com. Pemandangan masjid dan pepohonan di seberang jalan pun hampir tak terlihat jelas tertutup selimut asap.

Fenomena langit menguning ini telah berlangsung sekitar tujuh hari terakhir namun kabut asap tebal yang menyelimuti Palangka Raya sudah memasuki bulan ketiga. Upaya modifikasi cuaca yang sempat mendatangkan hujan singkat sekitar 30 menit justru memperparah keadaan. Setelah hujan reda asap justru semakin pekat dan menyesakkan.
Dampak asap ini sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari warga. Anak-anak sekolah terpaksa beralih ke pembelajaran jarak jauh dan aktivitas bekerja pun terganggu. Suteja merasakan sendiri bagaimana berlama-lama di luar ruangan saat udara menguning dapat menyebabkan sakit kepala hebat.
Sebagai pekerja pemasaran di sebuah resor setempat Suteja menyaksikan langsung bagaimana roda ekonomi terhambat. Resor yang dulunya asri dengan langit biru kini tampak gersang dan gelap diselimuti asap tebal. Ini bukan kali pertama Palangka Raya menghadapi bencana asap karhutla. Kejadian serupa pernah terjadi pada 2015 dan 2019 dengan 2015 sebagai tahun terparah. Suteja khawatir kondisi tahun ini berpotensi menyamai bahkan melampaui tingkat keparahan 2015.
Ia mengakui pemerintah telah berupaya keras menangani masalah ini namun sumber daya yang ada seolah tak cukup. "Kami hanya bisa berharap pada hujan lebat semalaman" ungkapnya pasrah. Berita tentang kebakaran lahan di sekitar Palangka Raya tak kunjung mereda menambah beban psikologis warga.
Masyarakat pun beradaptasi dengan kondisi darurat ini. Banyak rumah kini memiliki ruangan khusus yang ditutup rapat menggunakan plastik untuk melindungi diri dari asap. Keluar rumah menjadi sebuah keharusan yang disertai penggunaan masker. Namun kebutuhan masker terutama jenis N95 atau KN95 vitamin C obat-obatan dan kacamata untuk relawan pemadam kebakaran terhambat.
Bantuan logistik sangat sulit menjangkau Palangka Raya. Bandara Tjilik Riwut telah ditutup selama kurang lebih dua minggu terakhir sehingga pengiriman harus melalui jalur laut dan darat yang memakan waktu lebih lama. Padahal bantuan ini sangat krusial bagi kelangsungan hidup dan kesehatan warga.
Data terbaru dari Kementerian Kehutanan yang dirilis Jumat 9 Oktober menunjukkan masih ada 86 titik panas hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah. Pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan SiPongi Kemenhut hingga Kamis 8 Oktober pukul 21.10 WIB menyoroti Kalimantan Tengah bersama Sumatera Selatan sebagai provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi dari enam provinsi prioritas. Situasi ini menuntut perhatian serius dan solusi jangka panjang.

