zonamerahnews.com – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan karhutla yang melanda Provinsi Riau sejak Agustus hingga Oktober tahun ini telah membawa dampak kesehatan serius. Data terbaru menunjukkan lebih dari 28 ribu jiwa terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut ISPA. Angka ini menjadi sorotan utama di tengah upaya penanganan bencana asap yang terus berlangsung.
Kepala Dinas Kesehatan Riau Zulkifli mengungkapkan jumlah fantastis kasus ISPA tersebut. Bahkan, dalam dua hari terakhir saja, terjadi lonjakan signifikan dengan 331 kasus pada Selasa dan 263 kasus pada Rabu. Total akumulasi kasus ISPA dari 19 Agustus hingga kemarin telah mencapai 28 ribu jiwa. Data ini dikumpulkan dari 12 kabupaten dan kota di Riau, namun Zulkifli menegaskan perlunya verifikasi lebih lanjut untuk memastikan seluruh kasus benar-benar terdampak langsung oleh asap karhutla, mengingat kemungkinan kunjungan berulang pasien.

Menyikapi situasi darurat ini Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk bersinergi dalam penanganan kabut asap. Kolaborasi antarpihak di daerah menjadi kunci utama. Di Pekanbaru misalnya, lima pos lalu lintas telah dialihfungsikan menjadi pos kesehatan darurat. Pos-pos ini dilengkapi dengan petugas medis dan ambulans siap siaga melayani masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap.
Sementara itu untuk wilayah Kabupaten Siak dan Kampar yang hari ini masuk kategori Indeks Standar Pencemaran Udara ISPU berbahaya, pemerintah daerah bersama dinas terkait dan pemangku kepentingan telah bergerak cepat. Pembagian masker secara massal menjadi prioritas utama guna melindungi warga dari paparan asap. Dinas Kesehatan Riau sendiri juga turut mengaktifkan posko kesehatan dan rumah oksigen yang berlokasi di belakang Perpustakaan Wilayah Jalan Cut Nyak Dien.
Zulkifli menjelaskan rumah oksigen tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama, namun baru diaktifkan secara optimal seiring meningkatnya kategori ISPU dari tidak sehat menjadi berbahaya. Ia menambahkan bahwa seluruh kasus ISPA yang terjadi ditangani langsung di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas, tanpa memerlukan rujukan ke rumah sakit. Ini menunjukkan kesiapan layanan kesehatan dasar dalam menghadapi krisis asap di Riau.

