zonamerahnews.com – Suara-suara protes lantang menggema di Batam Kepulauan Riau beberapa waktu lalu ketika sekelompok ibu-ibu membawa ember gayung dan botol galon mendatangi kawasan Nongsa Digital Park menuntut kejelasan atas kelangkaan pasokan air bersih yang kini melanda permukiman mereka aksi ini menyoroti dugaan kuat bahwa proyek pusat data di lokasi tersebut menjadi penyebab utama menyusutnya air waduk yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga
Dewi salah satu warga yang ikut berunjuk rasa mengungkapkan kekecewaannya bantuan air dari mobil tangki dinilai tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan harian sehingga warga terpaksa merogoh kantong lebih dalam untuk membeli air bersih pengeluaran rumah tangga membengkak hingga Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per minggu padahal sebelumnya mereka hanya membayar sekitar Rp45 ribu per bulan untuk pasokan air dari waduk "Pengeluaran kami lebih besar bang sejak air tidak mengalir di rumah akibat waduk kering bisa sampai Rp200 ribu itupun tak sampai seminggu air kami sudah habis beli dari luar" keluh Dewi di tengah kerumunan

Menanggapi protes warga Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan BP Batam Denny Tondano membantah tudingan bahwa proyek pusat data sebagai biang keladi krisis air Denny menjelaskan bahwa di Nongsa Digital Park tidak hanya ada pusat data melainkan juga fasilitas lain seperti Nongsa Point Marina ia menegaskan bahwa pusat data masih dalam tahap pembangunan dan penggunaan airnya sangat minim "Kalau Data Center kita sampaikan seperti contoh Ekuator belum beroperasi Bapak-Ibu. Kalau kondisi yang ada di sini beroperasi pun tidak besar masih sangat kecil" ujarnya kepada wartawan
Menurut Denny penyebab utama kelangkaan air di Kelurahan Sambau Kecamatan Nongsa adalah musim kemarau panjang yang melanda beberapa bulan terakhir produksi air dari Waduk Nongsa anjlok drastis dari 90 liter per detik menjadi hanya sekitar 25 liter per detik sementara itu waduk-waduk lain di Batam seperti Duriangkang Sungai Ladi Muka Kuning Tembesi dan Sungai Harapan masih dalam kondisi aman BP Batam berencana untuk mendukung suplai air ke Nongsa dari Waduk Duriangkang guna mengatasi masalah ini Denny juga menyebutkan bahwa proyek pusat data tahap satu yang akan selesai dalam 8 hingga 12 bulan ke depan memang akan membutuhkan air dalam jumlah besar sekitar 1200 hingga 1800 liter per detik
Sehari setelah demonstrasi Kepala BP Batam Amsakar Achmad langsung meninjau Waduk Nongsa hasil peninjauan menunjukkan Tinggi Muka Air TMA Waduk Nongsa berada di kisaran 55 meter di atas permukaan laut jauh menurun sekitar 45 meter dari kondisi normal yang mencapai 10 meter bahkan pada puncaknya TMA bisa mencapai 127 meter curah hujan yang minim menjadi faktor utama penurunan debit air waduk yang berdampak langsung pada ketersediaan air baku dan distribusi ke masyarakat Nongsa
BP Batam telah menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk mengatasi krisis ini salah satunya adalah mengalirkan air dari embung di kawasan Kebun Raya Nongsa menuju Waduk Nongsa melalui pemasangan pipa interkoneksi langkah ini diharapkan dapat menambah debit air dan secara bertahap meningkatkan TMA waduk "Kami berupaya mendorong debit air di waduk ini agar posisi 55 meter ini secara bertahap bisa meningkat. Paling tidak dengan interkoneksi pipa ini bisa naik satu atau dua meter" jelas Amsakar
Selain itu BP Batam juga mengupayakan penyambungan pipa berukuran 250 mm dan 300 mm sebagai bagian dari sistem interkoneksi ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas booster agar dorongan air menuju masyarakat lebih optimal "Kita ingin agar pekerjaan teknis ini bisa cepat selesai sehingga tidak ada lagi keluhan masyarakat" tambah Amsakar ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melaksanakan salat istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan "Ikhtiar teknis kita lakukan mari ikhtiar spiritual juga kita lakukan agar persoalan bisa teratasi" pungkas Amsakar

