zonamerahnews.com – Ibu Kota Jakarta kini menggagas sebuah inisiatif revolusioner demi membentengi generasi mudanya dari gempuran hoaks dan disinformasi di era kecerdasan buatan. Melalui Program Duta Antihoaks Jakarta 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bertekad mencetak agen perubahan yang siap menghadapi manipulasi informasi yang kian canggih.
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Diskominfotik DKI Jakarta menjadi motor penggerak program krusial ini. Dari ratusan pendaftar yang mencapai 356 orang, hanya sepuluh finalis terpilih yang berkesempatan mempresentasikan proyek kampanye inovatif mereka dalam tahap penjurian ketat pada 29 September 2026.

Tantangan literasi digital kini jauh lebih kompleks. Hoaks tak lagi sebatas narasi palsu, namun telah berevolusi menjadi manipulasi foto dan video, teknologi deepfake, konten generatif berbasis AI, hingga peniruan identitas yang sulit dibedakan. Modus penipuan digital pun semakin licin dan sulit terdeteksi.
Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi menegaskan, kondisi ini menuntut pendekatan literasi digital yang adaptif dan terus diperbarui. "Di tengah dominasi AI, tugas kita bukan sekadar memilah fakta dan fiksi. Gambar, suara, bahkan video dapat direkayasa dengan tingkat kemiripan yang sangat meyakinkan," ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis 1 Oktober.
Menurut Marulina, pertahanan terbaik Jakarta bukan hanya mengandalkan teknologi mutakhir. Ia menekankan pentingnya masyarakat yang berdaya kritis, terbiasa menelusuri sumber, memahami konteks, dan berpikir matang sebelum menyebarkan informasi.
Program Duta Antihoaks Jakarta bukan sekadar ajang kompetisi mencari sosok terbaik. Diskominfotik mencari anak muda yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata, serta menggerakkan masyarakat agar lebih tangguh menghadapi gelombang hoaks dan disinformasi.
Oleh karena itu, penilaian finalis tidak hanya terpaku pada kreativitas dan kebaruan gagasan. Para juri juga menyoroti relevansi proyek terhadap isu nyata, potensi implementasi, kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, dampak yang dihasilkan, serta keberlanjutan program tersebut.
Sepuluh finalis ini merupakan hasil seleksi dan pembinaan intensif sejak Juli 2026. Mereka melewati seleksi administrasi, tahapan seleksi bertingkat, In House Training, hingga pembekalan khusus dalam menyusun proyek kampanye. Puncaknya, mereka menjalankan Proyek Kampanye Literasi Digital dari 28 Agustus hingga 25 September 2026, sebelum mempresentasikan hasilnya di hadapan dewan juri.
Dewan juri yang bertugas menilai terdiri dari Marulina Dewi sendiri, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI Rizki Ameliah, motivator dan entrepreneur Merry Riana, aktor sekaligus pegiat industri kreatif Dennis Adhiswara, serta Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Keumatan dan Keagamaan Nong Darol Mahmada.
Pengukuhan Duta Antihoaks Jakarta 2026 dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Setelah terpilih, para duta akan menjadi mitra strategis Diskominfotik untuk memperluas jangkauan gerakan literasi digital. Mereka akan menyasar sekolah, kampus, komunitas, ruang publik, hingga kanal-kanal digital. Proyek kampanye yang dinilai potensial juga akan didorong untuk dikembangkan lebih lanjut demi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
"Kami tidak mencari Duta Antihoaks yang hanya piawai di atas panggung. Kami mencari anak muda yang mampu berkomunikasi dengan bahasa generasinya, terjun langsung ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi sebuah gerakan nyata. Setelah terpilih, justru di situlah pekerjaan mereka dimulai," pungkas Marulina.
Melalui Duta Antihoaks Jakarta 2026, Pemprov DKI Jakarta berambisi memperkuat gerakan Jakarta Lawan Hoaks sebagai upaya kolektif. Gerakan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan baru di masyarakat: kritis dalam menerima informasi, cermat memverifikasi, dan bertanggung jawab sebelum membagikan.

