zonamerahnews.com – Kabar duka menyelimuti Gunung Semeru. Kobaran api yang tak kunjung padam kini telah melahap lahan seluas hampir 600 hektare, menciptakan pemandangan pilu di salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini terus merembet, menyulitkan upaya pemadaman yang gencar dilakukan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengungkapkan, medan yang ekstrem berupa tebing terjal serta embusan angin kencang menjadi musuh utama para petugas di lapangan. Kondisi ini mempercepat laju bara api, membuatnya semakin sulit dikendalikan. Hingga kini, dua titik api utama masih terpantau aktif membara, yakni di wilayah B29 Desa Argosari dan Ranu Kembang di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Lumajang.

Kawasan yang terdampak kebakaran meliputi Gunung Kepolo, Jambangan, Hutan Po’o, serta jalur pendakian alternatif Ayak-ayak. Untuk memutus rantai penyebaran api, tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur telah berupaya keras membuat sekat bakar. Strategi ini diterapkan di area rawan seperti Ayak-Ayak dan Po’o, demi mencegah kobaran api merembet lebih jauh ke wilayah lain.
Selain itu, operasi pemadaman darat juga gencar dilakukan di sepanjang jalur pendakian Semeru, khususnya antara Pos 1 dan Pos 2. Tujuannya jelas, mengisolasi titik api agar tidak meluas ke area sekitarnya. Akibat situasi darurat ini, Balai Besar Taman Nasional Tengger Semeru (TNBTS) telah mengeluarkan kebijakan penutupan sementara seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru. Penutupan berlaku sejak 26 Agustus hingga batas waktu yang belum ditentukan, demi keselamatan pengunjung dan memfokuskan upaya penanganan bencana.
Koordinasi intensif terus dijalin antara BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lumajang, dan TNBTS. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat penanganan karhutla, mengembalikan Semeru dari ancaman bara yang melahap keindahan alamnya.

