zonamerahnews.com – Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, yang memimpin panitia Muktamar ke-35 NU, mengungkapkan bahwa tim formatur kini memegang kendali penuh dalam pembentukan struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU periode mendatang. Mereka diberikan tenggat waktu satu bulan untuk merampungkan tugas penting ini.
Gus Ipul menjelaskan bahwa KH Miftachul Akhyar, Rais Aam terpilih, dipercaya sebagai ketua tim formatur. Sementara itu, posisi sekretaris diisi oleh Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin. Anggota formatur lainnya juga akan melengkapi tim ini.

Gus Ipul menyatakan rasa syukur atas tuntasnya Muktamar ke-35 NU. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan sukses melampaui target yang telah ditetapkan. Kehadiran Presiden pada pembukaan dan penutupan Muktamar menjadi catatan sejarah dan apresiasi luar biasa yang membanggakan. Diharapkan seluruh keputusan dan hasil Muktamar ini dapat segera diimplementasikan. Tujuannya agar Nahdlatul Ulama semakin mampu berkontribusi signifikan bagi kemajuan agama bangsa dan negara.
Gus Ipul juga menyoroti mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU yang baru dinilai lebih relevan dengan kondisi terkini dan efektif meredam potensi friksi. Berbeda dengan sistem one man one vote sebelumnya kini calon ketua umum diusulkan oleh cabang dan wilayah minimal satu maksimal lima nama. Daftar nama ini kemudian diserahkan kepada Rais Aam terpilih dan anggota AHWA untuk penentuan akhir.
Isu mengenai dugaan intervensi Istana Kepresidenan dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dibantah tegas oleh Gus Ipul. Ia menjamin bahwa seluruh proses Muktamar ke-35 NU berjalan murni tanpa campur tangan pihak luar. Spekulasi tentang KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin sebagai "pasangan Istana" juga ditepisnya sebagai rumor belaka. Gus Ipul menekankan bahwa NU dengan pengalaman 35 kali muktamar memiliki mekanisme internal yang kuat untuk menyelesaikan setiap tantangan.

