zonamerahnews.com – Kompetisi Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI siap tampil beda dengan sejumlah pembaruan signifikan untuk tahun 2026. Inovasi ini digadang-gadang bakal meningkatkan transparansi dan objektivitas penilaian, bahkan mengadopsi sistem layaknya Video Assistant Referee (VAR) dalam dunia sepak bola.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah, yang akrab disapa Titi, mengungkapkan bahwa perbaikan ini mencakup sistem penilaian yang lebih ketat, mekanisme pengawasan yang diperkuat, hingga penambahan kategori penghargaan baru. Salah satu terobosan paling mencolok adalah hadirnya sistem monitoring yang memungkinkan juri dan panitia meninjau ulang rekaman video jika terjadi perbedaan pendapat dalam proses penilaian.

"Seperti VAR di lapangan hijau, kini kami bisa melihat rekaman ulang momen-momen krusial jika ada ketidaksepahaman. Ini demi keadilan," jelas Titi. Ia menambahkan bahwa perbaikan ini juga melibatkan lebih banyak juri dari berbagai daerah, memperluas cakupan perspektif penilaian.
Selain itu, MPR RI kini mewajibkan seluruh dewan juri menggunakan headphone monitor selama perlombaan. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap jawaban peserta terdengar jelas tanpa distorsi, meminimalisir potensi kesalahan penilaian yang bisa merugikan peserta. "Banyak aspek teknis yang kami evaluasi, dan penggunaan headphone ini menjadi wajib agar tidak ada lagi keraguan dalam mendengarkan jawaban," tegas Titi.
Tak hanya itu, LCC Empat Pilar 2026 juga memperkenalkan kategori baru yang menarik, yaitu apresiasi yel-yel terbaik. Penghargaan ini diberikan kepada tim yang berhasil menampilkan kreativitas tinggi dan semangat kebangsaan melalui yel-yel mereka di awal lomba. Penilaian tidak hanya fokus pada semangat, tetapi juga kekayaan budaya daerah, nasionalisme, serta kemampuan memadukan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing secara harmonis.
"Kami ingin peserta menunjukkan kreasi yang berbau kedaerahan, nasional, dan internasional melalui yel-yel. Saya pribadi sangat mengapresiasi penggunaan bahasa yang baik dan beragam," ujar Titi, seraya berharap kategori ini bisa terus dipertahankan hingga babak grand final di Jakarta. Sebagai contoh, dalam LCC Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, SMAN 1 Pangkalan Bun, SMAN 1 Kuala Kurun, dan SMAN 1 Buntok berhasil meraih apresiasi yel-yel terbaik di babak penyisihan.
Perubahan masif ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, LCC Empat Pilar sempat diterpa polemik nasional setelah insiden di final Provinsi Kalimantan Barat. Saat itu, dewan juri memberikan nilai berbeda untuk jawaban yang sama, memicu kritik tajam dari masyarakat dan memaksa MPR RI menyampaikan permohonan maaf terbuka. Dengan sistem baru ini, diharapkan kontroversi serupa tidak akan terulang, menjadikan LCC Empat Pilar sebagai ajang kompetisi yang benar-benar transparan, objektif, dan akuntabel.

