Menag: Raksasa Tidur Ini Bisa Atasi Kemiskinan & Bangun Gedung MUI!
zonamerahnews – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar baru-baru ini menyoroti sebuah gagasan revolusioner yang berpotensi menjadi solusi bagi berbagai persoalan umat, termasuk kelanjutan pembangunan gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kerap menjadi pertanyaan. Gagasan tersebut berpusat pada optimalisasi dana umat yang selama ini dinilai belum tergarap maksimal. Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin usai menunaikan salat Idulfitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu (21/3), menjawab pertanyaan awak media mengenai masa depan gedung MUI.

Lebih lanjut, Nasaruddin mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah serius menginisiasi pembentukan sebuah lembaga khusus untuk pemberdayaan dana umat. "Bapak Presiden sedang menggagas lembaga pemberdayaan dana umat yang akan mengorganisasi semua pundi-pundi umat yang selama ini belum efektif," jelasnya, seperti dikutip dari zonamerahnews.com.
Ia merinci, sumber-sumber dana umat yang dimaksud sangat beragam, mulai dari wakaf, zakat, infak, sedekah, hibah, wasiat, hingga berbagai bentuk kontribusi lainnya yang jumlahnya mencapai sekitar 27 jenis. Potensi ini, menurutnya, jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan kekuatan finansial yang luar biasa besar. "Ada sekitar 27 sumber dana umat. Kalau itu dimampukan kita organisir dengan baik, itu luar biasa dananya," kata Nasaruddin.
Nasaruddin bahkan menganalogikan potensi dana umat ini sebagai "raksasa yang tidur" yang belum sepenuhnya terbangun dan dimanfaatkan. Ia percaya, jika raksasa ini berhasil dibangunkan, kebutuhan dasar umat dapat terpenuhi secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada anggaran negara. "Saya sering mengistilahkan bahwa itu adalah raksasa yang tidur. Kalau itu bisa kita kelola dengan baik, saya kira kebutuhan dasar umat bisa diselesaikan dari dana umat itu sendiri," tegasnya.
Menurutnya, selama ini anggaran negara, yang sebagian besar berasal dari pajak, lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur. Sementara itu, kebutuhan fundamental masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial, bisa ditopang oleh pengelolaan dana umat yang lebih terstruktur dan profesional.
Menariknya, Nasaruddin juga menekankan bahwa potensi dana keagamaan ini tidak hanya terbatas pada umat Islam. Ia menyebutkan, komunitas agama lain seperti Katolik dengan berbagai kegiatan amal (charity), Kristen, Hindu, dan Buddha juga memiliki sumber daya serupa yang melimpah. "Bukan hanya dalam Islam, ternyata di Katolik juga charity-nya banyak, begitu juga Kristen, Hindu, Buddha," ujarnya, menunjukkan inklusivitas gagasan ini.
Oleh karena itu, ia mendorong agar lembaga-lembaga keagamaan dapat dikelola dengan profesionalisme tinggi, sehingga mampu menyelesaikan persoalan umat secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan adanya sinergi antara dukungan pemerintah dari atas dan kekuatan ekonomi umat dari bawah, Nasaruddin optimis kemiskinan mutlak di Indonesia dapat dihapuskan. "Kalau ini kita organisir dengan baik, dari atas ada bantuan pemerintah, dari bawah ada kekuatan ekonomi umat. Dengan begitu, insyaallah kemiskinan mutlak itu tidak ada di Indonesia," pungkasnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai luhur keagamaan seperti sedekah dan amal jariah menjadi pendorong moral yang kuat bagi masyarakat untuk berbagi tanpa pamrih. Spirit ini, menurutnya, adalah modal sosial yang tak ternilai. "Kalau urusan agama, masa membohongi dirinya sendiri," katanya, menegaskan integritas dalam beramal.
Di akhir pernyataannya, Nasaruddin berharap agar gagasan besar ini dapat segera terwujud dan memberikan dampak positif yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. "Kita berdoa mudah-mudahan secepatnya yang terbaik bisa terwujud," tutupnya, penuh harap.

