zonamerahnews.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini merilis laporan mengejutkan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda enam provinsi di Indonesia. Data terbaru per Rabu lalu menunjukkan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan dampak terparah, mencatat area terdampak lebih dari 531 hektare.
Menurut keterangan Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan, yang disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis lalu, Sumatera Selatan tidak hanya memiliki luasan lahan terbakar yang masif, tetapi juga 24 titik api aktif. Meskipun demikian, tim di lapangan berhasil mengendalikan api di sekitar 240 hektare area.

Berton juga menyoroti tantangan besar di Sumatera Selatan. Kondisi cuaca yang ekstrem tidak memungkinkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) karena minimnya pembentukan awan. Jarak pandang yang terbatas di bawah 4 kilometer juga menjadi kendala, meski penerbangan umum masih terpantau normal.
Selain Sumatera Selatan, bencana karhutla turut mengancam lima provinsi lain. Di Kalimantan Barat, tujuh titik api menyebabkan lebih dari 122,9 hektare lahan terbakar. Sekitar 65,6 hektare telah berhasil dipadamkan, namun 57,3 hektare sisanya masih memerlukan penanganan. Kabar baiknya, dukungan helikopter Chinook dari Jepang mulai beroperasi, dengan satu sorti penerbangan telah dilakukan untuk membantu pemadaman, meskipun jarak pandang yang minim membatasi operasional lainnya.
Situasi serupa juga terjadi di Kalimantan Tengah, di mana 94 titik api melahap lebih dari 218 hektare lahan. Petugas telah berhasil memadamkan 108,7 hektare, namun sekitar 110 hektare masih dalam upaya penanganan.
Sementara itu, Kalimantan Selatan menghadapi 36 titik api yang menyebabkan kerusakan pada lebih dari 131 hektare lahan. Tim pemadam berhasil menjinakkan api di 96,8 hektare area.
Di Pulau Sumatera, Jambi mencatat 39 titik api dengan lebih dari 106 hektare lahan terbakar. Upaya pemadaman telah sukses di 65 hektare, menyisakan sekitar 41,5 hektare yang belum terkendali.
Terakhir, Riau juga tidak luput dari ancaman karhutla. Provinsi ini melaporkan 21 titik api dengan total lahan terbakar lebih dari 53 hektare. Lebih dari 29 hektare berhasil dipadamkan, namun 23,8 hektare masih menyala. Kondisi cuaca di Riau juga sangat kering, serupa dengan Sumatera Selatan, sehingga upaya rekayasa cuaca melalui OMC tidak dapat dilakukan karena absennya pertumbuhan awan.

