zonamerahnews.com – Sebuah inovasi luar biasa tengah menggema dari Kelurahan Malaka Sari Jakarta Timur. Warga di sana tidak hanya sekadar membuang sampah melainkan mengubahnya menjadi potensi bernilai tinggi. Gerakan masif ini bukan tanpa tujuan mereka membidik penghargaan bergengsi Benyamin S Award dari Pemprov DKI Jakarta dengan strategi pengelolaan limbah yang patut diacungi jempol.
Praktik cerdas ini dimulai langsung dari setiap rumah tangga. Setiap warga Malaka Sari telah terbiasa memilah sampah dapur dan jenis lainnya secara terpisah. Hasilnya volume sampah yang masuk ke tempat penampungan umum jauh berkurang karena sebagian besar sudah terurai atau diproses. Untuk menguatkan semangat ini Kelurahan Malaka Sari bahkan menggelar Festival Pilah dan Olah Sampah pada Selasa 6 Oktober. Acara ini menjadi bukti komitmen mereka dalam mengedukasi dan mengajak lebih banyak partisipan.

Esther salah satu warga setempat berbagi pengalamannya. Menurutnya kebiasaan memilah sampah sudah mendarah daging di lingkungannya sejak lama. Sampah dapur dipisahkan sendiri sehingga tong sampah di rumahnya tidak lagi penuh sesak. Sampah nonorganik atau residu diangkut oleh petugas khusus sementara limbah organik diolah mandiri menjadi kompos yang bermanfaat.
Inovasi mereka tidak berhenti di situ. Minyak jelantah yang seringkali menjadi masalah lingkungan justru dikumpulkan dan diubah menjadi sabun. Produk sabun hasil daur ulang ini bahkan menjadi salah satu daya tarik yang dipamerkan saat Festival Pilah dan Olah Sampah berlangsung menunjukkan kreativitas dan kepedulian warga.
Pusat dari gerakan ini adalah Bank Sampah ASRI tempat warga menyetor sampah nonorganik seperti plastik. Konsepnya sederhana semakin banyak sampah yang disetor semakin besar pula keuntungan finansial yang didapatkan. Esther membuktikan hal ini ia pernah meraup hingga Rp750 ribu dari hasil menabung sampah. Uang tersebut sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari bahkan jajan anak-anak.
Sere warga lainnya menuturkan bahwa inisiatif pengelolaan sampah ini bukanlah hal baru. Cikal bakal bank sampah sudah ada sejak 2009. Pada 2010 mereka aktif mengikuti berbagai lomba lingkungan yang membuka wawasan dan memberikan pelatihan. Puncaknya di tahun 2011 Bank Sampah ASRI resmi berdiri secara mandiri memanfaatkan barang seadanya dan sumbangan warga.
Sejak saat itu kebiasaan memilah sampah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Malaka Sari. Oleh karena itu ketika Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan wajib pilah sampah warga di sini tidak merasa terkejut. Mereka sudah jauh lebih siap dan memahami dampak positif dari tindakan tersebut.
Berkat dedikasi dan inovasi ini Bank Sampah ASRI serta seluruh sistem pelestarian lingkungan Malaka Sari kini menjadi keunggulan utama kelurahan tersebut. Tidak heran jika Malaka Sari berhasil melaju sebagai salah satu dari sepuluh finalis Benyamin S Award sebuah penghargaan bergengsi dari Pemprov DKI Jakarta yang bertujuan menciptakan lingkungan bersih nyaman indah dan sejahtera. Semangat warga Malaka Sari patut menjadi inspirasi bagi banyak pihak.

