zonamerahnews.com – Kabar mengejutkan datang dari perairan Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Minggu lalu. Tim gabungan penyelamat menemukan dua jasad yang diduga kuat merupakan korban tragedi KM Virgo Transport 8. Penemuan ini menambah daftar panjang korban yang berhasil dievakuasi setelah insiden memilukan itu.
Penemuan dramatis ini terjadi saat unit pencarian dan penyelamatan darat dari Kantor SAR Palangka Raya menyisir area perairan Seruyan. Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana yang bertindak sebagai Koordinator Misi SAR mengonfirmasi penemuan tersebut.

Kedua jasad segera dievakuasi menggunakan Kapal RIB 02 milik Kantor SAR Palangka Raya menuju Pos TNI AL Kumai. Di sana tim khusus akan melakukan identifikasi mendalam guna memastikan identitas dan status para korban.
Sudayana menegaskan bahwa upaya pencarian korban KM Virgo Transport 8 terus digencarkan baik di darat maupun di perairan Kalimantan Tengah. Seluruh sumber daya dikerahkan dan koordinasi antarpihak di lapangan terus diperkuat demi menemukan korban yang tersisa.
Operasi pencarian besar-besaran ini melibatkan berbagai instansi seperti Basarnas TNI Polri dan potensi SAR lainnya. Mereka menyisir berbagai titik fokus yang telah ditentukan. Meskipun dua jasad baru ditemukan misi penyelamatan tetap berlanjut dengan fokus pada pencarian korban lain di darat dan laut.
Data terbaru dari Basarnas hingga Minggu pukul 17.30 Wita menunjukkan total 190 orang telah ditemukan. Dari jumlah tersebut 108 orang berhasil selamat sementara 82 lainnya dinyatakan meninggal dunia. Namun masih ada 53 korban yang belum ditemukan dari 243 penumpang yang terdaftar dalam manifes KM Virgo Transport 8.
Sebuah keputusan penting diambil Basarnas pada Sabtu lalu yakni menghentikan operasi penyelaman. Langkah ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi jasad korban yang semakin memburuk membuat operasi bawah air tidak lagi efektif.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan bahwa pada awal operasi kondisi jasad korban yang dievakuasi masih memungkinkan untuk terapung sehingga mudah diangkat. Namun kini setelah 21 hari berlalu struktur kapal telah berubah dan kondisi jasad juga memburuk. "Korban bisa terurai saat dikeluarkan sehingga operasi penyelaman tidak lagi efektif" ungkap Syafii dalam konferensi pers di Banjarmasin.
Syafii berharap pemilik kapal segera melakukan operasi pengangkatan badan kapal atau salvage. Hal ini penting untuk memastikan keberadaan korban di dalam kapal dan memungkinkan evakuasi yang lebih aman setelah kapal diangkat. Ia menambahkan bahwa upaya penyelaman maksimal telah dilakukan namun dalam tiga hari terakhir tidak ada lagi korban yang ditemukan.
Meskipun beberapa bagian kapal seperti lambung kiri belum tersentuh penyelam kondisi di dalam kapal sangat labil dan membahayakan tim. Oleh karena itu setelah evaluasi mendalam Basarnas memutuskan untuk melanjutkan operasi SAR namun dengan fokus pada pencarian di permukaan dan darat. Area pencarian diperluas ke wilayah perairan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang berpotensi menjadi jalur hanyutnya korban.

