zonamerahnews.com – Pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya mengisyaratkan pintu penyelidikan kasus kematian Sutrimo, sosok yang sempat disebut-sebut sebagai mantan pekerja di kediaman eks Jampidsus Febrie Adriansyah, dapat kembali terbuka. Namun, syaratnya adalah jika di kemudian hari muncul bukti-bukti baru yang substansial. Sejauh ini, setelah serangkaian pemeriksaan saksi dan proses ekshumasi, aparat penegak hukum belum menemukan indikasi adanya tindak pidana di balik meninggalnya Sutrimo.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP I Dewa Anom Danujaya, menjelaskan bahwa hasil ekshumasi merupakan elemen krusial dalam upaya penyidik mengungkap penyebab kematian Sutrimo. "Dari sanalah kami memulai proses penyelidikan. Kesimpulannya, pada korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik maupun zat berbahaya yang bisa menjadi pemicu kematian," terang Anom dalam konferensi pers baru-baru ini.

Anom menambahkan, temuan dari ekshumasi tersebut kemudian dicocokkan dengan kesaksian para pihak serta berbagai barang bukti yang telah dikumpulkan. Dari sinkronisasi data ini, kepolisian belum mengidentifikasi adanya unsur kriminal di balik insiden tragis tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses penyelidikan kasus Sutrimo tidak akan berhenti total dan berpotensi dilanjutkan. "Dalam tahapan penyidikan, apabila di masa mendatang ditemukan novum atau bukti baru, maka penyelidikan dapat dibuka kembali," tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Tim Ekshumasi, Ahmad Yudianto, mengungkapkan bahwa hasil otopsi jenazah Sutrimo menunjukkan penyebab kematian adalah gangguan jantung iskemik. Yudianto juga memberikan penjelasan mengenai kemunculan busa putih dari mulut Sutrimo saat ditemukan tak berdaya. Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan dengan kondisi edema paru akut. "Busa yang keluar dari korban diakibatkan oleh edema paru akut, yaitu adanya penumpukan cairan dan lendir pada paru-paru yang menghambat kelancaran saluran napas. Ini menciptakan efek seperti ‘pengocokan’ yang kemudian menghasilkan busa putih," paparnya.
Sutrimo sendiri dilaporkan meninggal dunia pada Kamis, 23 Juli lalu. Ia ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di halaman Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya dilarikan ke RS Muhammadiyah Taman Puring menggunakan ambulans.

